Masjid Al Hikmah


Sudah lama saya mendengar mengenai masjid ini. Sebuah artikel yang mengulas kiprah ustadz Shamsi Ali menjadi perantaranya. Nama masjid ini disebut di artikel tersebut karena ustadz Shamsi pernah menjadi imam di sana. Dalam bayangan saya saat itu, hebat sekali di kota besar seperti New York, komunitas muslim Indonesia bisa memiliki masjid sendiri. Oleh sebab itu, saat Allah menakdirkan suami saya menempuh S3 di Amerika Serikat, saya bertekad untuk mengunjungi masjid ini. Apalagi tempat tinggal kami, Norfolk, Virginia tidak jauh dari New York. Hanya perlu berkendara sekitar 6-7 jam. Alhamdulillah kesempatan itu datang juga. Usai menghadiri konferensi tahunan Islamic Circle of North America (ICNA), kami sekeluarga menuju New York. Dari Baltimore (tempat penyelenggaraan konferensi ICNA) hanya membutuhkan 3 jam untuk sampai di sana. Bulan Maret masih masuk musim dingin, kadang salju masih turun tapi tak jarang cuaca menghangat. Hari itu, cuaca cukup bersahabat, matahari bersinar cerah namun juga tidak terlalu panas. Dari kejauhan saya sudah melihat bangunan masjid Al Hikmah yang berada di 48-01 31st Avenue, Astoria. Cat yang berwarna kuning menyala membuat bangunan ini tampak menyolok. Apalagi posisinya strategis, berada tepat di perempatan jalan. Kami lalu memarkir mobil di parkiran yang berada di belakang masjid. Parkiran ini tidak terlalu luas, namun saya pikir lumayan mengingat tidak banyak bangunan di kota Big Apple ini yang memiliki parkiran sendiri. Waktu shalat Dhuhur udah berlalu, untungnya pintu masjid tidak terkunci. Ada dua pintu masjid, yang berada di sebelah kanan merupakan pintu masuk untuk jamaah perempuan, sementara di sisi kiri, untuk jamaah laki-laki. "Orang Indonesia, kan? Ada yang bisa saya bantu?"sapa seorang bapak tua, saat kami memasuki pintu masjid.

Senang sekali disapa orang Indonesia. Bapak ini seusia dengan ayah saya, sekitar 60-an tahun. Raut mukanya ramah, senyum tulus mengembang di bibir beliau. Kami lalu berkenalan. Pak Palongengi menyatakan beliau senang sekali bertemu dengan kami yang jauh-jauh datang dari Virginia.

"Dahulu kami biasa mengadakan pengajian dari rumah ke rumah. Kalau bulan Ramadhan, kami melakukan jamaah shalat Tarawih dari rumah ke rumah. Lama-lama kami ingin mendirikan masjid, alhamdulillah atas swadaya orang-orang di sini kami bisa membeli tanah dan membangun masjid ini," tutur beliau menjelaskan sejarah masjid yang berdiri pada 1996 ini.

Kami berbincang di ruangan yang berfungsi sebagai ruang makan sekaligus dapur. Di dalamnya terdapat meja, kursi, kulkas dan peralatan memasak. Beliau ditemani seorang anak muda dari Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sedang mengikuti program training sebagai imam di masjid Al Hikmah.


Selain sebagai tempat menyelenggarakan shalat lima waktu, shalat Jumat dan shalat Ied, masjid ini juga mengadakan Sunday School atau sekolah Islam untuk anak-anak Indonesia setiap hari Sabtu. Secara rutin juga terdapat pengajian, latihan pencak silat dan pelajaran bahasa Indonesia. Masjid ini juga memfasilitasi proses pernikahan, perceraian, pengurusan jenazah, pembayaran zakat, dan lain-lain.

Selama musim panas, setiap tiga pekan sekali diadakan bazar di halaman parkiran masjid. Beragam masakan Indonesia dijual dengan harga terjangkau. Tidak hanya warga Indonesia, orang-orang dari berbagai bangsa turut membeli masakan yang dijual dalam bazar tersebut. Rupanya selain mengobati kerinduan akan masakan nusantara, acara ini juga menjadi ajang memperkenalkan masakan Indonesia di kalangan masyarakat New York. Sebagian hasil penjualan disumbangkan sebagai donasi masjid Al Hikmah. (Aini Firdaus, 201)


3 views0 comments

Recent Posts

See All